Minggu, 10 April 2011

Mimpi tentang sebuah Pernikahan Bagian 2

Perencanaan matang saja ternyata g cukup, semua butuh mimpi untuk mewujudkannya. Coz kenyataannya kita hanya menjalani hari istimewa itu 1x seumur hidup! Harapan wajar setiap pasangan.

Apa itu perencanaan matang dalam hal ini? Bahwa kita benar2 siap dan matang dalam mengarungi kehidupan!

Benar! Dan itu nyata. Hanya saja..dengan membuka gerbang yang lebih indah sesuai impian kita bukankah hal yang indah untuk diingat nantinya. Bukan hanya diingat, tapi itu adalah lambang dimana kita memulai kehidupan berdua dengan bahagia. Benar2 bahagia sehingga dapat diperlihatkan dan dirasakan sebagai sesuatu yang indah dan berharga.



Itulah yang sedianya diinginkan pasangan seperti ulasan pasangan part 1.
Mereka membutuhkan sesuatu yang spesial menurut mereka.

Ketika minggu2 menjelang pernikahan berangsur menjadi hari. Menuju hari istimewa. Tekanan pada mempelai akan makin berat.

Seperti yg dialami pasangan musikal. Mereka menerima semua saran dari wedding planner. Hanya saja makin dekat dari hari ke hari sepertinya pihak keluarga selalu campur tangan tentang apa yg boleh apa yg tidak, dalam hal yang wajar..of course, why not..
Tapi dalam hal ini pasangan ini sudah sesuai mengenai konsepnya dan sudah sesuai dengan temanya. Akan tetapi pihak keluarga selalu ingin memutuskan sesuatu.seperti "Aku tidak ingin latar panggung hitam seperti ini" dari si ibu, atau "aku harus jadi penata tari dan jadi penari utama" dari adiknya.

Padahal dari awal sudah dijelaskan bahwa, tema yg dipilih adalah klasik, jadi latar hitam agar mempelai terlihat mencolok, dan lebih mencolok lagi dengan sorotan lampu. Ditambah pengiring perempuan utama yaitu si adik juga turut menari. So apa masalahnya dengan konsep itu..mereka yg mau menikah dan bukan si ibu atau adik.

Lebih parah pada pasangan tenis yg kasar dan tidak mau kalah, karena mempertahankan konsepnya dan tidak dapat menerima ide yg lebih manis jadi mereka sedikit "istimewa"
Kok bisa? Ya..mereka inginkan koreografi, sementara mereka tidak menerima alunan lagu atau tarian apapun, hanya tenis! Mereka benar2 punya dunianya yaitu olah raga tenis dan disitulah mimpinya. Dan mereka tidak ingin mengganti dengan apapun! Sangat kaku sehingga tidak dapat mencipta lagu atau karangan romantis dan sebagainya, dan sulit menerima tema yang sedikit manis. Tapi mereka ingin tetap jadi kontestan juara, tidak bisa kalah, dan tidak ingin berpisah meski pasangannya kasar! Jadi bagaimana?

Kita lanjut ke pasangan naturalis..yah, tidak ada kesulitan berarti. Secara tema sudah diterima, tapi pakaian? NO! Mereka tidak menerima itu bahkan sampai berurusan dengan pengacara pemilik majalah. Why? Of cours..majalahnya bukan majalah dewasa. Itu majalah pernikahan, bahasannya tentang sesuatu yang indah, mewah, glamour dan istimewa. Apa sulitnya sih berpakaian. Tapi itulah dunia mereka..mimpi yang ingin mereka bangun adalah dengan menghargai lebih pasangan kita apa adanya bukan dari apa yang dikenakan.

Apakah mereka smua berujung manis? Kita lanjut ke part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat Datang Di Blog = ☻ THERESIA ASCANOVA HANDAYANI ☻ | Semoga Bermanfaat Bagi Anda